Kepadatan pendakian pasca Lebaran di kawasan wisata Sembalun, Lombok, tidak dapat dilepaskan dari momentum pembukaan kembali jalur pendakian yang umumnya dilakukan setelah penutupan musiman. Jalur pendakian Gunung Rinjani secara resmi dibuka kembali setiap awal April setelah ditutup selama beberapa bulan untuk pemulihan ekosistem. Pembukaan ini seringkali bertepatan dengan libur panjang pasca Lebaran, sehingga memicu lonjakan kunjungan dalam waktu singkat (Merdeka, 2026). Bahkan, pada hari pertama pembukaan, kuota pendakian dapat langsung terisi penuh oleh ratusan hingga ribuan calon pendaki (Yamin, 2026).
Lonjakan jumlah pendaki tersebut memberikan tekanan langsung terhadap lingkungan. Intensitas penggunaan jalur yang tinggi berpotensi menyebabkan kerusakan fisik seperti erosi tanah dan pelebaran jalur akibat pendaki yang mencari alternatif rute. Fenomena ini sejalan dengan temuan bahwa peningkatan jumlah pendaki dapat memicu kerusakan jalur, vandalisme, serta penumpukan sampah di kawasan pendakian (Putranto et al., 2020). Selain itu, data menunjukkan bahwa aktivitas pendakian juga menghasilkan volume sampah yang besar, bahkan mencapai puluhan ton dalam satu tahun, yang didominasi sampah anorganik seperti plastik (Viqi, 2025).
Dari aspek perilaku, kepadatan pendakian juga berkaitan dengan tingkat kesadaran lingkungan pendaki yang belum merata. Meskipun sebagian pendaki memiliki kesadaran yang cukup baik, masih ditemukan berbagai pelanggaran seperti membuang sampah sembarangan dan merusak fasilitas. Penelitian lain menunjukkan bahwa kesadaran pendaki terhadap lingkungan masih perlu ditingkatkan, terutama dalam pengelolaan sampah dan penggunaan fasilitas secara tepat (Sa’ban et al., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa masalah kepadatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah pengunjung, tetapi juga kualitas perilaku wisatawan.
Selain dampak lingkungan, kepadatan pendakian juga berimplikasi pada aspek keselamatan. Aktivitas pendakian yang dilakukan secara masif dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan. Data sebelumnya menunjukkan bahwa jalur pendakian Sembalun termasuk jalur yang rawan dan sering terjadi kecelakaan sehingga memerlukan perbaikan fasilitas keselamatan (Azmah, 2025). Selain itu, kondisi fisik pendaki juga menjadi faktor penting, karena pendaki dengan persiapan fisik yang kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan seperti acute mountain sickness (Permatasari & Sidarta, 2021).
Dari perspektif tata kelola, kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengaturan pendakian belum sepenuhnya adaptif terhadap pola kunjungan musiman. Meskipun telah diterapkan pembatasan kuota, pada praktiknya penumpukan tetap terjadi karena tidak adanya distribusi waktu kunjungan yang merata. Bahkan, sejak beberapa tahun sebelumnya, pembukaan jalur pendakian pasca Lebaran memang cenderung langsung diikuti lonjakan pengunjung dalam waktu singkat (Awaludin, 2021). Hal ini menegaskan bahwa masalah kepadatan merupakan pola berulang yang belum tertangani secara sistematis.
Dengan demikian, kepadatan pendakian pasca Lebaran di Sembalun merupakan indikator perlunya perbaikan dalam tata kelola wisata alam. Strategi yang lebih komprehensif diperlukan, seperti pengaturan jadwal pendakian berbasis periode, peningkatan edukasi lingkungan bagi pendaki, serta penguatan pengawasan di lapangan. Tanpa upaya tersebut, peningkatan jumlah wisatawan justru berpotensi mempercepat degradasi lingkungan dan menurunkan kualitas pengalaman wisata secara keseluruhan.
REFERENSI:
REFERENSI:
Awaludin. (2021). Dua hari usai Lebaran, pendakian Gunung Rinjani dibuka lagi. Antaranews.Com. https://www.antaranews.com/berita/2156846/dua-hari-usai-lebaran-pendakian-gunung-rinjani-dibuka-lagi
Azmah, B. (2025). Hari Pertama Dibuka, Ribuan Orang Mendaki Rinjani. Inside Lombok.Id. https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKCatEH8ppNgIAiObLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1776063557/RO=10/RU=https%3A%2F%2Finsidelombok.id%2Fmataram%2Fhari-pertama-dibuka-ribuan-orang-mendaki-rinjani%2F/RK=2/RS=F76ejN.aPIYzf.8TkQYin5wtHY8-
Merdeka, R. (2026). Libur Panjang Picu Lonjakan Pendaki, Kuota Gunung Rinjani Penuh. Merdeka.Com. https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKBG48HMppLAIA.APLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1776062780/RO=10/RU=https%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fuang%2Flibur-panjang-picu-lonjakan-pendaki-kuota-gunung-rinjani-penuh-555529-mvk.html/RK=2/RS=_BZLdlgIIfD6uOdg6scIKB.rciE-
Permatasari, T., & Sidarta, N. (2021). Hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung. Jurnal Biomedika Dan Kesehatan, 4(3), 106–112. https://doi.org/10.18051/JBiomedKes.2021. v4.106-112
Putranto, D. R., Hariyanto, & Benardi, A. I. (2020). Perilaku Pendaki Gunung Dalam Mengurangi Kerusakan Lingkungan Yang Terjadi Di Taman Nasional Gunung Merbabu. Edu Geography, 8(2), 121–129. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edugeo
Sa’ban, M., Falihin, D., & Padli, F. (2023). Analisis Kesadaran Pendaki Terhadap Lingkungan Wisata Pendakian Gunung Tambora. UNM Geographic Journal, 6(1), 36–50. https://doi.org/10.26858/ugj.v6i1.50542
Viqi, A. (2025). Pendakian Kembali Dibuka, 700 Pendaki Antusias Naik Puncak Rinjani. Detik.Com. https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrPpQV8HsppTAIAiObLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1776063357/RO=10/RU=https%3A%2F%2Fwww.detik.com%2Fbali%2Fwisata%2Fd-7853593%2Fpendakian-kembali-dibuka-700-pendaki-antusias-naik-puncak-rinjani/RK=2/RS=sFdhELFjmW7JTZdKdWE5YzEcW48-
Yamin, M. (2026). Diserbu Pendaki, Kuota Pendakian Rinjani Awal April Langsung Ludes. NTBSatu.Com.


