JOMBANG — Suasana khidmat menyelimuti kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, pagi itu. Di bawah langit Jawa Timur, rombongan dari Pascasarjana Institut Agama Islam Qamarul Huda (IAIQH) Bagu, Lombok Tengah, berkesempatan melakukan ziarah khusus ke makam Sang Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Hasyim Asy’ari.
Ziarah ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada ikatan emosional dan spiritual yang kuat antara masyarakat Sasak, khususnya keluarga besar IAIQH Bagu, dengan sosok Gus Dur. Hal ini terpancar dari kehadiran Dr. Mohammad Zakie (Kaprodi Pascasarjana IAIQH Bagu) bersama Wakil Dekan dan jajaran Kaprodi dari Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy).
Akses Khusus dan Kehangatan Tebuireng: Momentum ziarah ini terjadi usai penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara IAIQH Bagu dan Unhasy. Atas izin khusus dari pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), rombongan diperkenankan masuk langsung ke area dalam pusara—sebuah akses terbatas yang biasanya hanya diberikan pada tamu-tamu tertentu.

“Dengan tubuh yang sedikit merinding, akses itu kami peroleh. Di atas nisan marmer tertulis dalam tiga bahasa: ‘Di Sini Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan’. Sederhana, namun maknanya sangat dalam,” ujar Dr. Mohammad Zakie merenung di depan makam Presiden RI ke-4 tersebut.
Simbol Persahabatan Dunia Akhirat: Bagi masyarakat Lombok, Gus Dur memiliki tempat spesial karena persahabatan karibnya dengan ulama kharismatik NTB, TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin atau yang akrab disapa Datok Bagu. Dua tokoh ini adalah representasi Islam Nusantara yang ramah, moderat, dan membumi.
Datok Bagu sering mengisahkan betapa Gus Dur sangat menghargai perbedaan. Pertemuan keduanya tidak hanya membicarakan urusan agama di atas kertas, tetapi juga tentang keadilan sosial dan nasib rakyat kecil. Jika Gus Dur dikenal dengan humornya yang mencerahkan, Datok Bagu dikenal dengan kebijaksanaannya yang meneduhkan.
Pesan untuk Generasi Penerus: Ziarah ini menjadi pengingat bagi para pendidik dan santri di NTB bahwa tugas merawat kebangsaan adalah amanah yang berkelanjutan. Pesan ikonik Gus Dur, “Gitu aja kok repot,” seolah berpadu selaras dengan pesan Datok Bagu: “Jadilah orang Islam yang bisa menjadi rahmat untuk semua, dengan bukti dan bakti.”
Kunjungan ini menegaskan bahwa kolaborasi akademik antara IAIQH Bagu dan Unhasy bukan hanya soal administrasi pendidikan, melainkan upaya melanjutkan estafet perjuangan kedua kiai besar tersebut dalam menjaga keutuhan bangsa.
Semoga semangat persaudaraan Gus Dur dan Datok Bagu terus hidup dalam diri generasi penerus di Pulau Seribu Masjid dan seluruh pelosok negeri.


